Trik-Trik Licik Dalam Pemasaran Yang Sering Menjebak Kamu

May 11, 2020



Entah kamu sadar atau tidak, tim pemasaran mengaplikasikan trik-trik yang jitu untuk menarik perhatianmu sebagai konsumen. Tidak sedikit dari kita langsung terpengaruh dengan trik-trik tersebut. Untuk lolos dari trik ini pun juga adalah hal yang menantang, karena para tim pemasaran juga memainkan sisi psikologis dari para konsumennya untuk membeli produk mereka.
Beberapa contoh trik pemasaran yang licik :
1. Harga yang Menipu
Bayangkan ketika ada dua makanan dengan ukuran medium dan large, makanan yang berukuran medium diberi harga Rp. 45.000, sedangkan yang berukuran large dihargai Rp. 75.000. Konsumen pasti akan membeli makanan dengan ukuran medium karena selisihnya yang signifikan.
Bayangkan apabila selisih kedua harga tersebut sedikit. Ukuran medium dihargai Rp. 65.000, sedangkan ukuran large dihargai Rp. 70,000. Konsumen pasti akan membeli ukuran large, karena di pikiran mereka, lebih baik membeli yang ukuran yang lebih besar saja sekalian dengan selisih harga yang cuma Rp. 5000.
2. Memasang Harga Dengan Nominal Yang Ganjil
Kamu pasti pernah melihat sebuah produk yang dihargai dengan nominal angka seperti 299,900. Hal tersebut adalah trik untuk menarik konsumen, karena konsumen lebih tertarik pada harga-harga dengan nominal ganjil, dibandingkan dengan nomina seperti 300,000.
Ada sebuah efek psikologis yang bermain disini: konsumen akan merasa bahwa harga produk tersebut lebih mendekati ke 200.000 daripada 300,000 — meski secara matematis tentu tidak begitu.
3. Beli 1, gratis 1
Konsumen selalu terpikat dengan kata “gratis” dan cenderung untuk membeli produk yang berbonus meskipun mereka tidak terlalu memerlukan produk tersebut. Trik lain yang serupa adalah dengan membujuk pembeli untuk membeli produk dengan harga tertentu lalu mendapatkan potongan harga pada pembelian kedua.
4. Memberi Harga Tinggi Agar Terlihat Berkualitas dan Bergengsi
Konsumen di Indonesia masih memakai gengsi ketika membeli suatu produk. Misalnya saja ada dua produk dengan kualitas yang sama, produk yang satu dihargai Rp. 100,000 sedangkan produk kedua dihargai sebesar Rp. 400,000. Konsumen cenderung berpikir bahwa produk yang dilabeli dengan harga Rp. 400,000 memiliki kualitas yang lebih bagus dibandingkan dengan barang yang lebih murah. Selain itu, konsumen cenderung merasa lebih mantap bila produk yang dikenakannya adalah produk yang mahal.
5. Penawaran Dalam Waktu Terbatas
Di pusat-pusat perbelanjaan, seringkali terdapat program diskon dalam jangka waktu terbatas: misalnya diskon yang hanya berlaku dalam waktu 2 hari. Hal ini dilakukan untuk menarik urgensi konsumen untuk segera membeli produk yang sedang diobral dalam waktu singkat tersebut.
6. Trik Victor Gruen
Ada sebuah momen dimana ketika konsumen mengunjungi suatu pusat perbelanjaan, mereka melambatkan langkah mereka karena pengaruh display, musik, dan penataan barang-barang toko yang membingungkan. Hal ini disebut “Gruen Transfer” — alias momen dimana para konsumen tak lagi mengindahkan tujuan belanja mereka yang sebenarnya. Alih-alih, mereka akan beralih membeli produk yang tak mereka rencanakan sebelumnya.
Istilah “Gruen Transfer” diambil dari nama arsitek Austria Victor Gruen, pionir dalam arsitektur Pusat Perbelanjaan, Desain Mall yang selama ini seringkali kita lihat diadaptasi dari desain beliau.
7. Jaminan Uang Kembali
Biasanya ini ada pada produk makanan. Beberapa produk makanan suka memberikan label “Tidak Asli, Uang Kembali!! pada kemasan produk mereka. Hal ini membuat konsumen semakin tertarik untuk membeli barang karena konsumen berpikir produk mereka memakai material yang asli karena berani menjamin dengan pengembalian uang.
Padahal kalaupun ada kecacatan dalam produk, konsumen biasanya terlalu malas untuk menghubungi customer care. Di akhir hari, perusahaan pun tidak perlu repot-repot mengembalikan uang konsumen.
8. Tipuan Mata
Kita sering kali tertipu dengan produk makanan dengan warna yang menarik mata dan porsi ukuran yang terlihat lebih besar di gambar. Padahal, dalam bentuk nyata makanan tersebut tidak seenak seperti apa yang digambarkan. Namun, tetap saja banyak konsumen yang terpengaruh untuk membelinya.

https://qr.ae/pNyy1g

You Might Also Like

0 comments

SUBSCRIBE NEWSLETTER

Get an email of every new post! We'll never share your address.

Popular Posts

Flickr Images