Nominal uang yang harus dikeluarkan untuk dapat membeli seekor harimau seperti Alshad Ahmad

May 06, 2020
Alshad Ahmad? Sumpah, saya baru saja googling untuk mencari tahu siapa orang yang dimaksud.
Tajir Melintir dan Punya Rumah Ratusan Miliar, Ini Pekerjaan Ayah ...
Ternyata dia adalah orang Bandung sepupunya Raffi Ahmad.
Sebelumnya, saya adalah orang yang kontra dengan perilaku memelihara satwa liar, khususnya yang dilindungi, untuk dijadikan hewan kesayangan atau kepentingan pansos ya.
Jadi, kalau ada niat untuk membeli dan memelihara harimau, urungkan saja. Kalau pun anda punya uangnya, urungkan saja.
Harimau yang dimaksud bernama Eshan, berjenis Harimau Benggala (Panthera tigris tigris)Spesies ini bukan berasal dari Indonesia. Habitatnya di India sana. Jenis-jenis harimau dan habitatnya dapat anda ketahui di Jawaban Pangda Sopha untuk Ada berapa banyak varian hewan harimau di Bumi ini?
Secara teknis, harimau ini bukanlah satwa yang dilindungi perundang-undangan di Indonesia (ya karena memang bukan satwa Indonesia). Meski demikian, semua subspesies harimau di dunia masuk dalam Appendix 1 CITES[1] yang tidak boleh diperjualbelikan untuk alasan komersial.
Balik lagi ke topik. Informasi yang saya peroleh, Alshad Ahmad mengadopsi Eshan dari Kebun Binatang Bandung pada Juli 2017. Dia memenangi sayembara orangtua asuh bagi anakan Harimau Benggala yang baru lahir[2] .
Sejak saat itu, dia terikat kontrak untuk menyediakan pakan dan semua kebutuhan Eshan selama setahun, tapi Eshan tetap dipelihara di Kebun Binatang Bandung. Tidak untuk dibawa pulang dan bukan dibeli oleh Alshad.
Menurutnya, biaya yang dikeluarkan mencapai 30 juta selama setahun. Terutama untuk keperluan susu seharga 400 ribu yang habis dalam beberapa hari saja.
Sampai sini saya masih nggak ada masalah. Menjadi orangtua asuh bagi satwa di kebun binatang itu legal saja kok. Apalagi sanggup membiayai kebutuhan pakannya, tentu membantu kesejahteraan satwa di kebun binatang dan patut diapresiasi.
Kemudian, pada Oktober 2018, Alshad mendaftarkan PT. Taman Satwa Eksotik, badan hukum miliknya, sebagai sebuah penangkaran satwa ke BKSDA Jawa Barat. Lalu, pada 31 Desember 2019, ia mengunggah konten video di akun Youtube-nya yang berjudul
Video tersebut memperlihatkan pemindahan Eshan dari Kebun Binatang Bandung ke "penangkaran" yang kelihatannya menyatu dengan rumah pribadi Alshad.
Pada bagian akhir video, ia menyatakan bahwa akan ada satu ekor harimau lagi yang dibawa ke "penangkaran"-nya. Disinyalir harimau tersebut adalah Harimau Benggala betina bernama Jinora yang pernah ia pelihara hingga disita oleh BKSDA Jabar pada 2017.
Jinora disita pada waktu itu karena Alshad tidak memiliki surat angkutnya. Ia membeli Jinora dari penangkaran perorangan di Tangerang.
Saat ini, Jinora dititipkan pemeliharaannya oleh BKSDA Jabar ke Kebun Binatang Bandung. Alshad juga sudah mengajukan permohonan pemeliharaan Jinora ke BKSDA Jabar karena salah satu syarat pemeliharaan indukan satwa di penangkaran adalah memiliki sepasang jantan dan betina. Hal ini juga dibenarkan oleh Kepala BKSDA Jabar[3] .
Nah loh, bingung nggak? Orang beli satwa liar ilegal - satwanya disita negara - dimasukin kebun binatang - statusnya jadi legal - orangnya bikin "penangkaran" - negara punya syarat - orangnya ngajuin izin buat pelihara lagi dengan alasan memenuhi syarat. Pusiiiing.
Disini saya menyayangkan, begitu mudahnya izin penangkaran diberikan kepada seseorang yang sebelumnya melanggar hukum di ranah yang sama.
Selain itu, perilaku-perilaku seperti ini menggiring opini orang awam bahwa satwa liar itu bisa dipelihara asal punya uang. Orang awam nggak akan repot-repot berpikir apakah harimau ini dari Indonesia atau bukan. Besok-besok mereka beli harimau di pasar gelap, eh tahunya jenis Harimau Sumatera yang dilindungi undang-undang.
Sama saja dengan om Manusia Milenium atau Hakim Garis yang suka mengglorifikasi hobinya memelihara satwa liar. Kalau kasus perdagangan ilegal satwa liar semakin meningkat karena demand-nya meningkat akibat ulah mereka, pasti mereka nggak akan mau tahu. Kalau ada korban jiwa akibat ikut-ikutan memelihara satwa berbahaya kayak mereka, boro-boro tanggung jawab, malah dijadiin konten dan disalah-salahin sama mereka.
"Jangan bermain-main dengan ular ini karena bisanya sangat mematikan", sementara yang ngomong ngalungin ularnya di tangan sambil dielus-elus….
Satwa liar yang dilindungi nggak akan pernah bisa dibeli atau dimiliki perorangan. Kebun binatang pun hanya memelihara karena fungsinya sebagai Lembaga Konservasi, bukan memiliki. Yang memiliki selamanya ya negara, diatur dalam undang-undang.
Dari perspektif saya sebagai dokter hewan, memelihara satwa liar sebagai hewan kesayangan juga akan meningkatkan risiko spill over zoonosis ke manusia. Mau berapa pandemi lagi sih biar ngerti?
Kalau memang benar-benar sayang, jadi orangtua asuh saja sudah cukup. Biayai kebutuhan mereka di kebun binatang, cagar alam, dan taman nasional. Syukur jika membiayai juga kebutuhan petugas yang merawat dan peneliti yang membantu upaya konservasinya. Hehe.
Salam lestari!
Catatan Kaki

https://qr.ae/pNy86s

No comments:

Powered by Blogger.