Mendengar cerita seorang penderita vaginismus? Bagaimana caranya dia sembuh?

May 10, 2020
Ah tidak perlu anonim. Toh Vaginismus itu bukan aib. Sama kaya kalo kamu lagi batuk pilek. Batuk-pilek dan vaginismus sama-sama penyakit. Bukan mau kita. Bukan kita pula yang menyengaja.
Pernahkah kamu mendengar cerita seseorang penderita vaginismus?
Pernah dong. Saya sendiri. Saya akan mendengar cerita saya sendiri. Wekekkek.
Keluarga besar saya yang sudah menikah ada juga yang vaginismus. Kakak kelas saya bahkan ada yang dicerai suaminya karena vaginismus. Saat saya posting di facebook tentang vaginismus, puluhan DM masuk mengadukan hal yang sama. Banyak vaginismus survivor di muka bumi. Hanya saja suara mereka tenggelam sebab mereka malu karena ini berkaitan dengan kondisi vagina mereka.
Vaginismus apa sih?
Ketegangan otot vagina yang menyebabkan penis tidak bisa penetrasi.[1]
Sayangnya definisi vaginismus di masyarakat sering tertukar dengan definisi 'penis captivus' alias gancet. Jadi masyarakat mikir bahwa vaginismus terjadi karena perempuan tidak bisa rileks.
Mereka pikir vaginismus terjadi karena pikiran dan kondisi psikis perempuan. Padahal tidak. Semua di luar kontrol pikiran.
Berapa lama mengidap vaginismus?
6 bulan. Saya sendiri sebelumnya tidak tahu jika saya mengidap vaginismus.
Saya pikir wajar bila malam pertama masih gagal penetrasi. Waktu baru di pintunya saja, saya sudah kesakitan luar biasa. Tapi ketika kami mencoba dari hari ke hari, bulan ke bulan, masih saja gagal.
Saya kerap memaksakan. Gapapa deh sakit, saya akan tahan. Ternyata suami saya sendiri merasa seperti ada dinding yang memang tidak bisa ditembus.
Apa yang terjadi bila penis memaksa penetrasi?
Rasanya perut seperti ditonjok. Saya tidak bercanda. Rasanya seperti ditonjok. It's terrible hurt.
Bagaimana cara berhubungan seksual dengan pasangan semasa istri mengalami vaginismus?
Seekploratif mungkin. Yang pasti fokus stimulus ada pada penis dan klitoris. Fellatio dan culliningus misalnyaMasih bisa berhubungan seksual tanpa penetrasi kok. Sama-sama puas. Sama-sama enak.
Bagaimana sembuh dari vaginismus?
Proses dilatasi mandiri.
Sebelumnya harus diketahui bahwa terdapat tingkatan derajat keparahan vaginismus.
Bila tidak terlalu parah maka pengobatannya adalah dilatasi mandiri. Bila derajat keparahannya tinggi maka pengobatannya adalah dilatasi berbantu.
Dilatasi mandiri dilakukan menggunakan dilator. Sedangkan dilatasi berbantu melalui proses bedah di meja operasi.
Ilustrasi dilator: Intimate Rose.
Karena dilator pada saat itu belum sebeken sekarang. Saya menggunakan yang asli. Yaitu penis. Tentunya dalam kondisi ereksi. Itung-itung foreplay.
Caranya bagaimana?
Bila menggunakan dilator maka dimulai dari size terkecil. Sejauh mana ia bisa masuk. Bisa dibantu dengan lubrikan yang aman. Bila sakit, lepaskan. Coba lagi esok hari. Begitu terus dengan rutin sampai sukses size paling besar. Tentunya membutuhkan waktu yang lumayan lama.
Kalau menggunakan penis pasangan misalnya hari ini kita coba penetrasi sedikit saja.Kalau sakit, lepaskan jangan memaksa. Selanjutnya esok hari coba lagi, sejauh mana vagina kita bisa bertahan. Jika sakit, lepaskan. Begitu terus secara rutin hingga akhirnya penis berhasil masuk 1/2 pada hitungan 6 bulan pernikahan. Buat kami itu adalah prestasi. Sayapun tidak menemukan darah apa-apa.
Bahkan sebelum melahirkan sejujurnya keberhasilan penetrasi hanya mencapai 3/4. Selebihnya bila dipaksa lebih dalam perut saya akan terasa ditonjok-tonjok. Saya bisa lancar full setelah melahirkan, and its so amazing!. No more pain!
Dari pengalaman ini saya makin percaya bahwa konsep keperawanan melalui darah selaput hymen adalah konsep sesat.
Kemana kita dapat berobat saat mendapati gejala vaginismus?
Ke dokter kandungan. Eits, tapi hati-hati.
Tidak semua dokter kandungan ramah dan peduli terhadap pengidap vaginismus.
Banyak vaginismus survivor pulang berobat dengan tangan hampa dan bonus air mata karena mereka justru mendapat stigma dan perundungan dari dokter kandungan.
Maksud hati ingin sembuh, malah justru dokternya meledakkan bom.
Tapi jangan khawatir. Ada dokter kandungan pakar vaginismus di Indonesia yang semasa belajarnya meneliti habis-habisan tentang vaginismus. Beliau sangat ramah, baik bahkan sering memberi konseling untuk pasangan yang mengalami vaginismus. Ia bahkan dianugerahi rekor MURI karena menjadi dokter penggiat Vaginismus pertama di Indonesia.
Ia adalah dr Robby Asri Wicaksono, Sp.OG. Pakar Vaginismus yang praktik di RS Limidjati, Bandung.
Berselfie bersama dokter Robby Asri Wicaksono saat saya menghadiri seminar seks pasutri. Beliau adalah salah satu pembicara kala itu.
Dokter Robby menjelaskan fakta-fakta ilmiah seks. Termasuk masalah vaginismus.
Diriku berbagi pengalaman tentang vaginismus dan bertanya kepada dokter Robby mengenai dilatasi mandiri dan dilatasi berbantu.
Apakah wanita yang mengalami vaginismus tidak terangsang?
Terangsang dong. Horny. Bahkan menggebu-gebu. Vaginapun terlubrikasi dengan baik. Tapi tetap saja gagal masuk.
Bagaimana perasaan mengalami vaginismus?
Tidak ambil pusing meski sebetulnya penasaran bagaimana rasanya orgasme melalui g-spot. Saya santai karena saya beruntung memiliki suami yang mau belajar dan baik dalam mengkomunikasikan masalah tersebut. Bahkan pada saat bulan madu, saya selalu request hubungan seksual yang indah dan menolak segala pemaksaan yang menyakitkan.
Malam honeymoon di Lembang saat mengkomunikasikan hal tersebut.
Tentunya para Vaginismus Survivor lain berbeda nasib dengan saya. Kebanyakan nasibnya buruk. Semuanya menyerang psikis dan mental penderita.
Seperti saudari keluarga besar saya misalnya. Ia tiba-tiba dibawa mertuanya ke dokter kandungan untuk cari sebab kenapa ia tak kunjung hamil. Padahal ia sudah menjelaskan bahwa ia mengalami vaginismus. Ia justru ditakut-takuti dokter:
"Kok bisa udah lama menikah masih belum bisa nganu? Hati-hati loh nanti suaminya main dengan orang lain!"
Perempuan mana yang tak patah hati bila penyakit yang ia derita dijadikan bahan justifikasi perselingkuhan?
Bahkan tak sedikit Vaginismus survivor lain mengadu kepada saya perkataan-perkataan menyakitkan dari tenaga kesehatan:
"Melayani suami itu wajib lho mbak! Dosa kalau ga mau!"
Lah yang ga mau siapa? Pengidap vaginismus itu tidak bisa bukan tidak mau. Buktinya sama-sama horny kok. Sama-sama nafsu. Sama-sama basah.
"Nek ora mbok kei jatah, bojomu dipangani opo?"
(Kalau tidak kamu beri jatah, suamimu dikasih makan apa?)
Yo dipangani iwak, pecel karo sambel. Mosok dipangani mem (tiiiiit sensor)
(Ya dikasih makan ikan, pecel dan sambel. Masa dikasih makan kemaluan perempuan)
Suami kami juga tidak serendah itu. Otaknya tidak melulu selangkangan. Kami juga bisa eksplorasi hubungan seksual tanpa penetrasi. Toh bisa orgasme. Keluar juga spermanya.
Kami datang ke dokter untuk berobat agar otot vagina tidak lagi menutup. Bukan untuk dihakimi.
Selama ini seks dalam relasi pasutri hanya dipandang sebagai privilige suami. Seakan hanya suami yang butuh dilayani secara seksual. Padahal kami perempuan juga makhluk seksual. Kami juga nafsu.
Saya sendiri tak habis pikir tentang nasib kakak kelas saya yang dicerai suaminya karena Vaginismus. Bukannya diajak ke dokter, eh malah diceraikan. Ah, begitulah kalau tujuan menikah semata-mata hanya untuk menghindari zina. Ketika hubungan seksual yang ia bayangkan tak ia dapatkan. Ia dengan mudahnya melayangkan kata talak.
Saya bahkan membaca kisah Vaginismus survivor yang mengajak suaminya ke dokter untuk minta support proses dilatasi berbantu sebab derajat Vaginismusnya sudah parah. Sang suami malah mengancam menceraikannya:
"Lebih baik aku ceraikan kamu daripada menikmati kamu yang sudah diperawani oleh pisau bedah di atas meja operasi."
Sungguh suami egois, dajj*l, lakn*t, bod*h, patriarki, penganut konsep sesat keperawanan.
Saat mendapati istri Vaginismus ia murka karena tidak bisa penetrasi. Giliran istri berobat agar ia bisa penetrasi, ia malah mengancam perceraian. Mau lo apa fir'aun?
Saya selalu ngelus dada melihat nasib dan perlakuan orang sekitar terhadap pengidap vaginismus. Ada pesan dokter Robby yang selalu saya ingat:
"Seks adalah kesalingan. Bukan kewajiban untuk melayani."
Kalau ingin lebih jauh tau tentang serba-serbi vaginismus, atau bahkan mengalami keluhan vaginismus bisa mampir ke Instagram dokter Robby
Selamat berhohohihi nanti malam 😁 sekarang puasa dulu woy!
Catatan Kaki

https://qr.ae/pNyn5E

No comments:

Powered by Blogger.