Mengapa kualitas pendidikan di Indonesia sangat rendah?

May 02, 2020
Ada 3 artikel bagus yang ditulis oleh Elizabeth Pisani tentang kualitas pendidikan di Indonesia. Pisani adalah jurnalis Reuters yang banyak menulis tentang Indonesia. Salah satu bukunya, Indonesia Etc.: Exploring the Improbable Nation, adalah buku bagus yang mendapat banyak pengakuan internasional.[1]
Bagi kalian yang terutama guru/dosen/pengajar pasti sudah tidak asing dengan jargon "masa depan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya". Penjajah Belanda konon membiarkan rakyat Indonesia tetap bodoh, supaya lebih mudah dikendalikan. Orang yang bodoh lebih suka ribut antar sesama tidak akan sempat memikirkan cara-cara untuk memperbaiki nasib atau menjadi lebih maju.[2]
Back to topic.
Dalam tulisannya, Pisani menyoroti prestasi anak-anak Indonesia dalam tes PISA. PISA adalah tes yang diadakan OECD untuk menguji kemampuan anak-anak usia 15 tahun di puluhan negara dalam bidang sains (science), matematika (math) dan membaca (reading). Tes ini diadakan 3 tahun sekali. Di 2 tes terakhir pada tahun 2012 dan 2015, Indonesia mendapat peringkat 60-an dari 70 negara di ketiga bidang yang diujikan. Jauh di bawah negara-negara tetangga di ASEAN seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, apalagi Singapura.
Hasil tes anak Indonesia yang jauh di bawah negara-negara tetangga di ASEAN ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat rendah. Konon ini juga menunjukkan bahwa anak Indonesia tidak punya basic skills yang kelak akan dibutuhkan di dunia kerja, seperti critical thinking atau problem solving capability. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan bagi Indonesia di era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), dimana tenaga kerja bisa bekerja bebas lintas negara.
Jika gambar kurang jelas bisa buka disini: Apparently, 42% of young Indonesians are good for nothing
Sekarang kita pindah pendidikan secara global
Hasil tes 2015 menunjukkan, 55% anak Indonesia punya kemampuan sangat buruk di tes membaca. Semua soal tes PISA sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia loh padahal.. Reading comprehension mereka ternyata sangat rendah. Mereka bisa membaca, namun mereka tidak mampu untuk menemukan ide utama dalam sebuah paragraf, memahami keterkaitan antar kalimat, maupun menemukan informasi yang tepat dalam paragraf (orang-orang yang reading comprehensionnya rendah begini tuh yang jadi sasaran empuknya hoax). [3]
Lihatlah urutan Indonesia di list tersebut, selalu masuk dalam 10 besar urutan terbawah. Lebih naasnya lagi dibawah rata-rata tes OECD.[4]
Sebenarnya memang aneh. Saya banyak mendengar keluhan para orang tua yang bilang bahwa beban studi anak-anaknya di sekolah sekarang amat berat. PR nya banyak, tugasnya susah-susah. Soal-soal untuk anak SD kadang terlalu 'ajaib' saking susahnya. Anak SD sekarang aja sudah les mata pelajaran.
Lah sudah begitu lantas mengapa anak Indonesia hasil tesnya jauh di bawah negara-negara tetangga di ASEAN? Sudah gak pintar, budi pekertinya tidak dapat dibanggakan pula. Lantas apa gunanya segala beban studi yg berat itu?
Pisani mencoba menganalisis, mengapa kira-kira kualitas pendidikan Indonesia sangat rendah. Berikut beberapa analisisnya:
  1. Dana pendidikan di Indonesia sebenarnya sangat tinggi dianggarkan di APBN. Orangtua anak juga keluar biaya besar untuk pendidikan. Tapi dana-dana itu entah 'bocor' ke mana, karena kualitas pendidikan ya gitu-gitu aja.
  2. Kualitas guru di Indonesia masih sangat rendah. Salah satu sebabnya, banyak orang sebenarnya tidak punya passion mengajar, namun menjadi guru hanya karena ingin menjadi PNS atau butuh pekerjaan. Di masa Soeharto, guru adalah birokrat dan bukan pendidik. Dan itu terbawa sampai sekarang.
  3. Sudah kualitasnya rendah, banyak guru dan kepala sekolah yang suka 'membolos', khususnya di daerah-daerah terpencil. Ada yang tidak muncul di sekolah hingga berbulan-bulan! Padahal gaji jalan terus. Murid-murid jadi terbengkalai. Kalaupun gurunya datang ke sekolah, murid-murid hanya diberi tugas mengerjakan LKS karena gurunya malas mengajar.
  4. Di Indonesia, tidak ada sistem yang memberi penghargaan (reward) bagi guru yang kreatif dalam mengajar, mendorong siswanya untuk maju dan sanggup berpikir kritis, dan sebagainya. Sistem kepangkatan masih diutamakan pada lamanya bekerja/senioritas, dan bukan pada kemampuan sang guru.
  5. Sejak era otonomi daerah, kualitas pendidikan malah makin hancur. Kepala sekolah kini dipilih oleh kepala daerah dengan sistem balas jasa. Kejadian nyata di suatu daerah, ada kepala sekolah yang dipecat karena kebocoran uang sekolah dan berjudi. Ia kemudian bisa diangkat kembali jadi kepala sekolah, hanya karena ia menjadi timses kepala daerah yg menang dalam Pilkada! Kepsek-kepsek ini juga kini rela melakukan apa saja demi menyenangkan kepala daerahnya.
  6. Di Indonesia, segala sesuatu bisa dibeli, termasuk ijazah. Orang bersekolah/kuliah untuk dapat ijazah, bukan untuk belajar sesuatu. Karena itu kualitas jadi tidak penting, yang penting punya gelarnya.
  7. Berdasarkan penelitian, di negara-negara lain tutorial/les selaku berhasil membuat anak lebih pintar, namun hal itu tidak berlaku di Indonesia. Mungkin karena tipe les di Indonesia hanya mengajarkan tips/trik cara mengerjakan tes/ujian, dan bukan mengajari anak untuk benar-benar bisa memecahkan masalah (kadang bahkan guru lesnya yang membikinkan PR anak lesnya. Hahaha).
  8. Kurikulum 2013 yang sempat akan diberlakukan bahkan meniadakan mata pelajaran sains untuk memberikan waktu lebih bagi mata pelajaran agama, PKN dan matematika. Bayangkan apa jadinya kalau sains ditiadakan.
Masih panjang uraian Pisani di artikel-nya. Kalo tertarik, silahkan dibaca sendiri disini: Indonesia etc

Saya menulis ini bukanlah memandang tulisan-tulisan Pisani ini sebagai bentuk hinaan (biarpun judulnya bikin emosi), namun pandanglah sebagai kritik yang membangun.
Entah bagaimana caranya untuk bisa menciptakan pendidikan Indonesia yg lebih baik. Masalahnya terlalu kompleks.
Catatan Kaki

https://qr.ae/pNrQVl 

No comments:

Powered by Blogger.