Sebagai generasi milenial, apa yang membuatmu memutuskan tidak bekerja di perusahaan rintisan?

October 14, 2019

Untuk perusahaan Start-up kelas Unicorn, seperti:
Alasan saya tidak bekerja di sana antara lain:
  • IPK saya tidak mencukupi. Kebanyakan unicorn hanya mau merekrut lulusan-lulusan baru yang memiliki IPK 3.6 ke atas dan lulusan dari Top 3 PTN atau swasta terkenal seperti BINUS serta lulusan dari negara-negara lain
  • Sudah mencoba tapi gagal. Ok, Adiamo, Ciao.
Ilustrasi Start-up Tempat saya bekerja dulu
Akhirnya, saya diterima bekerja di Perusahaan Start-Up (Rintisan) Kelas Menengah di Jakarta, 2 bulan sebelum diwisuda. Perusahaan ini bergerak di bidang audit, jasa consulting uang electronic, system enabler, dll. Perusahaan ini terletak di Ragunan, Jakarta Selatan.
Beberapa hal menyenangkan yang saya alami ketika bekerja di sana adalah:
  1. Satu-satunya perusahaan yang mau menerima saya yang kala itu baru Yudisium, tetapi belum memiliki Ijazah dan transkrip
  2. Memiliki banyak teman yang berusia sebaya atau pun masih termasuk generasi Millenial
  3. Dresscode yang cenderung bebas
  4. Akses Internet tanpa batas
Tetapi, setelah saya bekerja di sana selama kurang lebih 4 bulan, saya memutuskan untuk keluar dan memilih bekerja sebagai engineer di bidang oil & gas. Memang, banyak teman-teman dari generasi Milenial yang menganggap saya bodoh dan salah jalan. Keputusan saya ini didasari oleh beberapa alasan:
  • Jarak rumah saya ke sana dibandingkan tempat kerja saat ini lebih jauh, sehingga memakan waktu tempuh yang lebih lama dan lebih memerlukan ongkos transportasi yang besar
  • Lebih sesuai dengan bidang studi saya. Saya yang tidak paham IT dan tidak jago design merasa sulit berkembang di start up. Tenang, oil & gas industry juga menerapkan IT dalam industri 4.0, kok. Seperti penggunaan software untuk HAZOP, SIL, dll. Jadi, saya lebih bisa mengembangkan diri saya di sini
  • Di tempat kerja saya yang baru, saya mendapat kenaikkan gaji 2 kali lipat
  • Di start-up tersebut, saya masih berstatus karyawan kontrak, sementara di tempat baru saya, status karyawan saya sudah permanen
  • Selain gaji, ada juga asuransi kesehatan, BPJS, dan bonus-bonus lainnya, ini tidak saya dapat di tempat lama
  • Untuk urusan dress code, karena ini perusahaan Oil & gas, dress code nya bebas, di hari Jumat, saya bahkan diperbolehkan memakai pakaian seperti ini:
  • Jika kalian menganggap bahwa bekerja di corporate itu membosankan dan diperas bagai budak, kalian salah. Atau bekerja di corporate = monoton seperti gambar di bawah, itu juga tidak tepat. Industri Migas adalah industri yang dinamis dan penuh tantangan, apalagi jika kalian bekerja di EPC Company, di mana kalian harus mengerjakan project yang beragam setiap bulannya dan berhadapan dengan macam-macam klien.
  • Saya merasa lebih mendapat international exposure saat bekerja di Migas
  • Bukti bahwa bekerja di Corporate, utama Oil & Gas tidak diperlakukan bagai budak adalah: kami memiliki waktu recess yang cukup dan kantor menyediakan berbagai sarana olahraga seperti bersepeda, berenang, zumba, yoga, tenis meja, bulu tangkis, futsal/sepak bola, basket, panahan, dan bowling. Kegiatan seni seperti Drama Musical akhir tahun juga ada, kok. Sama kan sama start-up?
  • Bukti kedua kalau corporate juga ada yang memiliki "perks" yang sama dengan start up adalah, adanya snack sore setiap Jumat dan makan siang gratis jika ada kolega yang berulang tahun
  • Saya tetap bisa bekerja sambilan dan investasi saat bekerja di industri Migas. Ketika bekerja di start-up, karena terlalu lelah, saya biasanya langsung tidur sesampainya di rumah
  • Ini adalah yang paling krusial bagi saya. Masalah jam kerja. Di start up tempat saya bekerja dulu, sistem jam kerja nya adalah 8 jam suka-suka, pilih sendiri, alias kalian boleh masuk jam 7, 8, 9 atau jam berapapun terserah kalian, asalkan kalian menghabiskan minimal 8 jam di kantor. Saya yang sehari-hari datang jam 8 (saya berangkat pagi untuk menghindari penuhnya kereta) sering mendapati kantor kosong melompong (hanya HR yang datang), ketika harus bekerja dalam tim, seringkali menyelesaikan tugas menjadi sulit karena setiap anggota memiliki jam kerja berbeda-beda. Hal ini tentu saja berbeda dengan sistem kerja di Oil & Gas yang 8 jam sehari, boleh masuk jam 7 atau 8 (kalo Italiano ada sih yang datang jam 9), sehingga tidak ada ceeritanya sulit menyelesaikan tugas karena masalah jam kerja.
  • Terkait dengan poin sebelumnya, karena jam kerja setiap orang berbeda-beda, lembur tidak ada dan tidak diberi uang meski sudah bekerja lebih dari 8 jam. Di Oil & gas, orang yang bekerja di atas 8 jam, apalagi untuk hal-hal krusial, berhak atas uang lembur
  • Karena start-up membolehkan "Work from Home", akibatnya ketika saya harus menghadiri acara di luar kota atau sedang sakit, saya tetap diharuskan bekerja. Berbeda dengan saya bekerja di Oil & Gas, saat saya harus izin seminggu karena terkena cacar, atasan saya memperbolehkan saya untuk beristirahat tanpa harus dibebankan dengan pekerjaan.
Ini adalah pengalaman pribadi saya bekerja di Start-Up level menengah yang telah berdiri selama kurang-lebih 10 tahun. Jika kalian tidak setuju, saya mohon maaf, karena ini pengalaman pribadi.
Molto Grazie,

You Might Also Like

0 comments

SUBSCRIBE NEWSLETTER

Get an email of every new post! We'll never share your address.

Popular Posts

Flickr Images